Perbedaan

Terkadang kita masih mempertanyakan, kenapa kita berbeda. Kenapa ada perbedaan diantara umat manusia yang ada di dunia. Perbedaan kulit, ras & suku, agama dan sebagainya.

Banyak orang yang mengatakan, perbedaan itu indah. Perbedaan itu yang membuat hidup itu lebih bermakna. Memang, betul. Sangat setuju sekali. Tapi sadarkah kita, jika perbedaan itu terkadang membuat hidup kita seperti berada “dibawah” ? Sadarkah kita, jika perbedaan membuat hubungan kita menjadi “jauh” ?

Perbedaan memang terkadang membuat hidup kita menjadi berwarna. Tidak monoton. Kita bisa berkumpul dengan orang yang “berbeda”. Belajar sesuatu yang baru dari sekeliling kita yang “berbeda”. Indah sekali rasanya. Hidup kita akan dipenuhi dengan warna-warni perbedaan. Tapi sadarkah kita, tidak semuanya perbedaan itu indah.

Mindset yang tertanam terkadang membuat kita hanya berpikir, bahwa kehidupan kita bisa kita jalanin jika kita hanya bersama dengan orang yang “sama”. Entah itu sama dalam arti suku, agama dan sebagainya. Sering sekali, bahkan banyak sekali orang yang tidak bisa melanjutkan sebuah hubungan, hanya gara-gara perbedaan. “Maaf saya tidak bisa menerima kamu, karena kita berbeda”. Kalimat yang sering kita dengar kan ? Perbedaan membuat hubungan seseorang berhenti. Bahkan lingkungan kita pun mengedepankan perbedaan.

Padahal Hati tidak peduli dengan perbedaan. Hati tidak memperdulikan perbedaan. Hati adalah Hati. Dimana dia akan mellihat orang lain dari Hatinya. Hati tidak peduli dengan perbedaan. Namun kenyataannya, hati akan kalah dengan perbedaan. Walaupun terkadang hati memberontak, tapi perbedaan akan “menang”. Lingkungan di sekeliling kita pun akan mendukung perbedaan tersebut. Kita merasa malu, kalo dekat dengan orang yang “berbeda”. Apa kata teman gang saya nanti ? Apa kata keluarga saya nanti ? Dan sebagainya.

Pada akhirnya Hati juga akan Kalah dengan Perbedaan. Hati tidak bisa apa-apa. Hanya bisa merintih sedih tanpa bisa apa-apa. Untuk menjadi seorang “sahabat” saja, hati ternyata kalah oleh perbedaan. Begitu besar dominan si perbedaan. Sehingga hati menjadi tidak berkutik.

Tapi itulah yang terjadi. Hati hanya bisa diam, menangis, merintih kesedihan, sakit dan hanya bisa memendam rasa itu. Melanjutkan hidupnya dengan hati yang terluka. Perbedaan masih akan mendominasi hidupnya.

Terkadang masih ingin berharap, hati bisa “bersahabat” dengan perbedaan. Apakah mungkin ? Tidak tahu, hanya si hati dan perbedaanlah yang bisa menjawab.

 

Serpong, 21 November 2015

My Room

Leave a Reply