Social Entrepreneurship

Muhammad Yunus
Grameen Bank

Social Entrepreneurship (Kewirausahaan Sosial) adalah sebuah penggabungan antara bisnis dan misi sosial. Artinya pendekatan kewirausahaan untuk menyelesaikan masalah yang ada di dalam masyarakat. Social Entrepreneurship melihat atau mengidentifikasi masalah sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar, mereka adalah orang-orang yang aktif dan inovatif. Hasil yang ingin dicapai bukan hanya keuntungan materi atau kepuasan pelanggan, melainkan bagaimana gagasan yang diajukan dapat memberikan dampak menyelesaikan masalah sosial.

Social Entrepreneur tidak mementingkan uang yang akan mereka dapatkan, tetapi lebih kepada dampak dari perbuatan mereka kepada sosial. Bagi mereka, uang adalah sarana untuk mencapai tujuan mereka, yaitu misi sosial. Lain halnya dengan Business Entrepreneur, uang adalah tujuan akhir mereka dan merupakan sarana untuk menghitung value yang mereka ciptakan.

Social entrepreneurship memiliki misi untuk memecahkan masalah social dengan melihat peluang yang ada. Pemecahan masalah sosial ini dilakukan secara berkelanjutan dan terus menerus mencari solusi dan peluang baru untuk mengatasi masalah sosial tersebut. Tak hanya itu, social entrepreneur berani melakukan hal diluar kemampuannya untuk mewujudkan misi tersebut serta mau menjalani semua proses yang ada didalamnya. Keuntungan yang diperoleh dan kepuasan pelanggan bukanlah alat ukur penciptaan nilai/value, melainkan dampak social yang telah diciptakan. Memperoleh keuntungan, menciptakan kekayaan, atau melayani keinginan pelanggan menjadi bagian dari sarana untuk tujuan sosial, bukan tujuan itu sendiri.

Definisi kewirausahaan sosial merupakan gabungan dari entrepreneurship dan social innovation. Dalam lingkup yang lebih luas. Definisi tersebut harus mencakup enam hal (Dees, 2001), yaitu :

– Agen Perubahan di Sektor Sosial :

Wirausaha sosial adalah revolusioner yang membuat perubahan fundamental yang sistematis untuk peningkatan kualitas hidup sosial. Perubahan yang dihasilkan biasanya bersifat global atau berpengaruh luas.

– Misi untuk Membuat Dampak Sosial yang Berkelanjutan :

Wirausaha sosial menargetkan untuk membuat perubahan yang dapat dirasakan secara terus menerus, bukan pada waktu pengembalian modal yang singkat. Dampak sosial yang terus menerus terjadi berimplikasi pada peningkatan ekonomi masyarakat luas, seperti layaknya para wirausahawan yang mampu menstimulasi ekonomi masyarakat (Phills et all, 2008).

– Mengenali dan Mengejar Kesempatan Baru untuk Mencapai Misi Tanpa Kenal Lelah:

Wirausaha sosial tidak hanya berlandaskan pada rasa belas kasihan akan sosialnya semata. Namun, mereka melihatnya sebagai peluang yang perlu untuk dieksekusi dengan kerja keras. Hal itulah yang membuat mereka dikategorikan sebagai wirausaha (Gerometa et all, 2005).

– Terlibat dalam Proses Inovasi, Adaptasi, dan Proses Pembelajaran yang Berkelanjutan:

Hal ini wajib dilakukan, wirausaha sosial menganggap kegagalan sebagai poin pembelajaran sehingga kedepannya mempunyai pengelolaan resiko yang baik. Selain itu, mereka juga wajib mendefinisikan inovasi untuk kebutuhan sosial tersebut dengan lebih luas, sepertinya layaknya inovator sosial (Mair & Marti, 2009).

– Berani Bertindak Tanpa Melihat Batasan Sumber Daya yang Ada :

Wirausaha sosial tidak boleh bergantung pada pihak lain dalam mencapai visinya. Pencapaian visi dilakukan melalui kreativitas dan kolaborasi tanpa melihat limitasi.

– Menampilkan Kepekaan Sosial yang Dapat Dipertanggungjawabkan Kepada Pemangku Kebijakan Melalui Hasil yang Dicapai :

Kewajiban mereka untuk mengetahui benar benar apa yang dibutuhkan oleh oleh komunitas atau sektor yang akan dilayani

 

Source :

  1. Ahmad, N., & Seymour, R. G. (2007). Defining Entrepreneurial Activity. OECD, 21-67.
  2. Dees, G. (2001). The Meaning of “Social Entrepreneurship”. 1-5.
  3. Gerometta, J., Häussermann, H. and Longo, G. (2005), “Social innovation and civil society in urbangovernance: Strategies for an inclusive city”, in Urban Studies, vol. 42, no. 11, pp. 2007-2021.
  4. Hjorth, D. (eds.), Entrepreneurship as social change. A third movements in entrepreneurship book, Elgar,Cheltenham, pp. 21-34.
  5. Phills, J.A.J., Deiglmeier, K. and Miller, D.T. (2008), “Rediscovering Social Innovation”, in Stanford Social Innovation Review, Fall 2008, pp. 34-43.
  6. Mulgan, G., Tucker, S., Ali, R. and Sanders, B. (2007), Social innovation: what it is, why it matters andhow it can be accelerated, Working Paper, Skoll Centre for Social Entrepreneurship, Oxford.
  7. Mair, J. and Martí, I. (2009), “Entrepreneurship in and around institutional voids: A case study from Bangladesh”, in Journal of Business Venturing, vol. 24, no.5, pp. 419-435.
  8. Swedberg, R. (2006), “Social entrepreneurship, the view of young Schumpeter”, in Steyaert, C. and
Tags:

Have your say